Sabtu, 11 Februari 2012

Perbedaan Hindu di India Dan Bali

Om Swastyastu.
Dari dulu pertanyaan ini selalu membayangi diri saya,Hindu di Bali dan Hindu di India berbedakah?
Jawabannya adalah berbeda tapi satu. Mari kita lihat ulasannya.
Kalau kita buka kembali pelajaran Agama Hindu kita,dalam Agama Hindu ada 3 batang tubuh/kerangka:
1.      Tatwa : filsafat
2.      Etika : susila
3.      Ritual : upacara
Untuk Tattwa/filsafat dan Etika atau Susila, akan kita temukan kesamaan di seluruh penganut Agama Hindu dimanapun mereka berada. Sumber utama dari Tattwa adalah Kitab Suci Veda. Kemudian dijelaskan dalam Upanisad, Dharmasastra, Itihasa/Wiracarita seperti Mahabharata dan Ramayana, Bhagavad Gita, Yoga Wasista, Wrehaspati Tattwa, Sarasammuccaya, Srimad Bhagavatam, dan lain-lain.
Salah satu contoh kesamaan ajaran yang bisa dijumpai di berbagai daerah di Indonesia maupun di India adalah Lima Keyakinan yang dikenal dengan nama Panca Sradda yaitu:
1. Percaya dengan adanya Tuhan,
2. Percaya dengan adanya Atman,
3. Percaya dengan adanya Hukum Karma Phala,
4. Percaya dengan adanya Reinkarnasi/Punarbawa/Samsara,
5. Percaya dengan adanya Moksa.
Dalam Etika yang merupakan perwujudan nyata dari aplikasi tattwa yang telah dipelajari, pun tampak kesamaan, semua orang Hindu akan berusaha untuk tidak menyakiti atau menyiksa mahluk lain (Ahimsa). Semua orang Hindu berusaha memperlakukan manusia yang lain seperti saudaranya, “Vasudaiva Kutum Bakam” Semua mahluk dilahirkan bersaudara. “Tat Twam Asi” artinya; kamu adalah aku, aku adalah kami, bila aku menyakitimu, sama dengan aku menyakiti diriku sendiri.
Perbedaannya disini kemudian terletak pada ritual/upacara. Ini disebabkan oleh tradisi yang di anut oleh masing-masing wilayah dan nilai historis suatu daerah. Jangankan di Indonesia dan India,antara Bali dan Jawa pun memiliki perbedaan. Untuk memahami perbedaan ini,mari kita tengok sejarah perkembangan Agama Hindu di bali.
Ada 7 maha Rsi yang menerima wahyu Weda yaitu Grtsamada, Wiswamitra, Wamadewa, Atri, Bharadwaja, Wasista, dan Kanwa yang menerima wahyu Weda di India sekitar 2500 tahun sebelum Masehi. Kemudian masing-masing Rsi mengembangkan ajaran Weda menurut bagian-bagian Weda tertentu. Dari sini berkembanglah sekte-sekte yang jumlahnya ratusan. Kemudian sekte siwa sidhanta menyebar ke Indonesia. Kemudian ada beberapa Rsi suci yang mengembangkan ajaran ini sesuai dengan tradisi setempat,yaitu:
1.      Danghyang Markandeya
2.      Mpu Ssangkulputih
3.      Mpu Kuturan
4.      Mpu Manik angkeran
5.      Mpu Jiwaya
6.      Danghyang Dwijendra
Ke-enam tokoh suci tersebut telah memberi ciri yang khas pada kehidupan berAgama Hindu di Bali sehingga terwujudlah tattwa dan ritual yang khusus yang membedakan Hindu-Bali dengan Hindu di luar Bali.
Penerapan Agama Hindu agar berhasil harus disesuaikan dengan tujuan (Iksha), kemampuan (Sakti), aturan setempat (Desa) dan waktu (Kala). Namun dalam pelaksanaannya tidak boleh bertentangan dengan Tattwa atau kebenaran Veda. Hal inilah yang menyebabkan Hindu di India dan Hindu di Bali atau di mana saja selalu berbeda-beda bentuk penampilan luarnya. Lima pertimbangan ini sebagaimana dutuliskan dalam Manawa Dharma Sastra:

Karyam so'veksya saktimca
Desakaala ca tattvatah
Kurute dharmasiddhiyartham
Visvaruupam punah punah.
(Manawa Dharmasastra VIII.10)

Maksudnya:
Setelah mempertimbangkan iksha (tujuan), sakti (kemampuan), desa (aturan setempat), kala (waktu) dan tattwa (kebenaran) untuk menyukseskan tujuan Agama (Dharmasiddhiyartha) maka ia wujudkan dirinya dengan bermacam macam wujud.
Di Bali sinergi Agama Hindu dengan budaya Bali mampu meningkatkan dan mengembangkan kualitas budaya Bali. Dalam sinergi itu tampak Agama Hindu sebagai titik sentral (pusat) yang menjiwai semua aspek budaya Bali.
Hindu Dharma tidak bersandar pada satu doktrin tertentu ataupun ketaatan akan beberapa macam ritual tertentu maupun dogma-dogma atau bentuk-bentuk pemujaan tertentu. Ia memperkenalkan kepada setiap orang untuk merenungkan, menyelidiki, mencari dan memikirkannya, oleh karena itu, segala macam keyakinan/Sraddha, bermacam-macam bentuk pemujaan atau Sadhana, bermacam-macam ritual serta adat-istiadat yang berbeda, memperoleh tempat yang terhormat secara berdampingan dalam Hindu Dharma dan dibudayakan serta dikembangkan dalam hubungan yang selaras antara yang satu dengan yang lainnya.
Inilah yang menyebabkan Hindu berbeda dan Indah.
Om Shanti,Shanti,Shanti, Om

1 komentar: